Dari Kebun hingga Cangkir: Ketika 350 Ton Kopi Sulteng Menemukan Jalannya

Sejumlah anggota kelompok tani dari Poso memajang biji kopi hasil produksinya pada Festival Kopi Sulteng 2025 di PGM, Sabtu (18/10/2025). (© bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Sejumlah anggota kelompok tani dari Poso memajang biji kopi hasil produksinya pada Festival Kopi Sulteng 2025 di PGM, Sabtu (18/10/2025). (© bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, pojokSULTENG | Di tengah aroma kopi yang memenuhi ruangan, sebuah kontrak senilai Rp52 miliar ditandatangani. Bukan di Jakarta. Bukan di ruang rapat mewah. Tapi di Palu, di tengah Festival Kopi Sulteng 2025, di antara petani yang tangannya masih berbau tanah dan pelaku usaha yang matanya berbinar penuh harapan.

“350 ton sudah ditandatangani, insya Allah,” ujar Fajar Setiawan, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng, dengan nada gembira. Di belakangnya, layar besar menampilkan angka-angka yang membuat petani kopi tersenyum: kontrak selama dua tahun, mitra dari Jawa Timur, nilai transaksi sekitar Rp52 miliar.

Ini bukan sekadar angka. Ini adalah validasi. Bahwa kopi Sulteng—yang selama ini tumbuh tenang di lereng-lereng Sigi, Tojo Una-Una, Morowali, dan Banggai—akhirnya menemukan tempatnya di peta kopi nasional.

Permintaan Melebihi Produksi

Irfan Sukarna, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulteng, duduk di barisan depan dengan ekspresi serius. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi: permintaan kopi Sulteng jauh melampaui kapasitas produksi.

“Jawa Timur menginginkan lebih. Mereka datang ke sini bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk membeli. Masalahnya, produksi kita masih terbatas,” ujarnya.

Irfan menyebut angka yang mengejutkan: permintaan bisa mencapai ribuan ton, sementara kapasitas produksi saat ini hanya ratusan ton. “Jadi ada defisit. Sebenarnya kita yang dibutuhkan, bukan kita yang membutuhkan. Ini peluang besar,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Sulawesi Tengah memiliki segala yang dibutuhkan untuk menjadi kaya: wilayah indah, sumber daya melimpah, penduduk hanya 3,3 juta jiwa. “Jakarta tidak punya kekayaan alam seperti kita, tapi ekonominya jauh lebih maju. Pertanyaannya: kenapa kita belum mengoptimalkan apa yang kita punya?”

Pelaku UMKM menyeduh di Festival Kopi Sulteng di PGM, Sabtu (18/10/2025). (© bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Pelaku UMKM menyeduh di Festival Kopi Sulteng di PGM, Sabtu (18/10/2025). (© bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Kopi Kamanuru: Skor Tertinggi Se-Indonesia

Di salah satu booth, Kopi Kamanuru dipajang dengan bangga. Bukan tanpa alasan. Tahun lalu, kopi ini meraih skor tertinggi se-Indonesia dalam kompetisi nasional. Beberapa kopi Sulteng lainnya juga masuk 10 besar nasional dan terpilih mengikuti ajang internasional.

“Kopi kita bukan sembarang kopi,” ujar Irfan. “Ini sudah terbukti secara objektif. Tinggal bagaimana kita memproduksi lebih banyak dan memasarkannya lebih luas.”

Bank Indonesia, menurutnya, telah memfasilitasi 14 petani kopi dari berbagai kabupaten untuk mengikuti cupping score di 5458 Coffee Lab—lembaga kurasi kopi Indonesia. Hasilnya? Kualitas kopi Sulteng diakui, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Jangan Tunggu Miskin Lagi Baru Bergerak”

Farid Yotolembah, Staf Ahli Gubernur Sulteng Bidang Ekonomi, naik ke panggung dengan semangat. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting: bahwa kemiskinan adalah pilihan.

“Kita ini kaya. Kita ini makmur. Allah sudah memberikan kita kekayaan alam. Tinggal kita mau mengolahnya atau tidak,” ujarnya tegas.

Ia menyinggung bantuan-bantuan pemerintah: BPNT, PKH, dan berbagai program lainnya. “Pemerintah sudah memberikan banyak bantuan. Tapi apakah kita mau dibantu terus? Jangan digenggam terus bahwa kita miskin. Nanti anak kita miskin, cucu kita miskin lagi. Kapan mau hidup sejahtera?”

Farid mengajak para petani dan pelaku usaha kopi untuk berpikir besar. “Bayangkan kalau seluruh Palu ini semua warung kopi, dan semua laris. Berapa besar ekonominya? Saya sendiri bisa minum kopi lima kali sehari,” ujarnya sambil tertawa.

Tapi ia juga serius. Ia mengusulkan agar kopi tidak berdiri sendiri, tetapi dipasangkan dengan kuliner lokal. “Di daerah saya, Kaili, kalau minum kopi pasti ada kue kecil. Itu luar biasa enaknya. Kenapa kita tidak coba buat pasangan seperti itu? Kalau ada kopi, pasti ada kue. Itu baru namanya ekosistem bisnis.”

Sejumlah pengunjung menikmati kopi di Festival Kopi Sulteng di PGM, Sabtu (18/10/2025). (© bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Sejumlah pengunjung menikmati kopi di Festival Kopi Sulteng di PGM, Sabtu (18/10/2025). (© bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Festival Harus Rutin, Bukan Setahun Sekali

Farid juga menekankan pentingnya kontinuitas. “Festival ini jangan setahun sekali. Tiga bulan sekali, bahkan dua bulan sekali kalau perlu. Harus terus-menerus promosi, sehingga orang tanpa sadar mencari kopi setiap hari. Itu baru namanya sudah masuk pasar.”

Ia memberi contoh: “Kalau sehari dia tidak minum kopi, dia cari kopi. Itu sudah masuk. Tapi kalau hanya waktu ada keramaian baru cari kopi, itu belum.”

Visi Farid jelas: Palu harus punya menu identitas. Kalau disebutkan Palu, orang langsung ingat: ikan bakar, palumara, uta dada, dan sekarang—kopi. “Lima menu saja cukup. Fokus pada lima jenis ini. Promosikan terus. Itu baru kita punya branding yang kuat.”

Dari Kebun ke Cangkir: Ekosistem yang Harus Diperkuat

Fajar Setiawan menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar pameran. Ini adalah upaya membangun ekosistem kopi yang utuh: dari hulu hingga hilir.

“Kami menghadirkan 14 petani kopi dan 9 coffee shop berjejaring dari Sulteng. Tujuannya agar mereka bertemu, berdiskusi, dan membangun kemitraan,” jelasnya.

Rangkaian acara meliputi pameran kopi terkurasi, talk show, sharing session, pelatihan barista, public test kopi, dan business matching. “Kami ingin coffee shop lokal juga menggunakan biji kopi dari tanah kita sendiri. Jangan sampai kopi kita dijual keluar, tapi di warung kopi kita sendiri malah pakai kopi impor.”

Sehari sebelum festival, panitia menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama petani, UKM, dan pelaku usaha kopi. Salah satu hasil penting dari FGD tersebut adalah rencana pembentukan Asosiasi Kopi Sulteng.

“Permintaan sudah banyak. Masalahnya, kita belum terorganisir. Dengan asosiasi, kita bisa menjawab permintaan secara kolektif dan profesional,” ujar Fajar.

Pertanyaan Besar: Sanggupkah Kita?

Farid menutup sambutannya dengan pertanyaan menohok: “Kontrak 350 ton senilai Rp52 miliar sudah ditandatangani. Pertanyaannya: apakah kita sanggup memenuhi itu?”

Ia mengingatkan bahwa kontrak bukan hanya soal kesepakatan di atas kertas. “Kita harus melihat kemampuan kita. Kualitas kopi kita sudah terbukti. Tapi apakah kapasitas produksi kita cukup? Apakah kita siap memenuhi permintaan yang terus meningkat?”

Ia menekankan pentingnya kemitraan dan soliditas. “Pengusaha kopi kita harus solid. Satu visi, satu misi. Jangan saling sikut. Itu baru namanya membangun kekuatan bersama.”

Warung Kopi Penuh, Petani Tersenyum

Di luar ruangan, festival berlangsung meriah. Booth-booth kopi lokal dipenuhi pengunjung. Ada yang mencicipi espresso single origin dari Sigi, ada yang menikmati kopi susu gula aren dari Morowali, ada juga yang tertarik dengan cold brew dari Banggai.

Kopi Kamanuru—sang juara nasional—menjadi incaran. Orang antre untuk mencoba kopi dengan skor tertinggi se-Indonesia itu. “Rasanya beda,” ujar seorang pengunjung. “Ada note buah-buahan, asam manis seimbang. Ini kopi kelas dunia.”

Di sudut lain, para petani duduk bersama pelaku usaha, berdiskusi tentang harga, kualitas, dan rencana kerja sama jangka panjang. Wajah mereka cerah. Mereka tahu: kopi mereka dihargai.

Mimpi Besar: Sulteng di Peta Kopi Dunia

“Kopi Sulteng dari Desa Menuju Peta Kopi Nasional.” Itulah tema festival ini. Tapi Irfan punya mimpi lebih besar: “Kenapa hanya nasional? Kopi kita sudah punya kualitas internasional. Kenapa tidak kita bidik pasar global?”

Ia mengajak semua pihak untuk berkolaborasi: pemerintah, pelaku usaha, petani, komunitas. “Kalau kita bergerak sendiri-sendiri, hasilnya terbatas. Tapi kalau kita berkolaborasi, langit adalah batasnya.”

Farid menutup dengan kalimat yang mengena: “Kita ini dijajah dulu karena rempah-rempah kita, karena kopi kita. Sekarang kita merdeka. Kita bebas mengolah kekayaan kita sendiri. Tinggal pertanyaannya: mau atau tidak?”

Farid meresmikan pembukaan Festival Kopi Sulteng 2025. Dan di antara semua itu, ada harapan besar: bahwa Sulteng tidak hanya akan masuk peta kopi nasional, tetapi juga dunia.

Bahwa 350 ton kontrak hari ini hanyalah permulaan. Bahwa petani kopi di lereng-lereng pegunungan Sulteng akhirnya akan sejahtera. Bahwa kopi—minuman sederhana yang menemani pagi jutaan orang—akan menjadi jembatan menuju kemakmuran.

Dari kebun hingga cangkir. Dari desa hingga dunia. Inilah mimpi Kopi Sulteng. Dan mimpi itu, perlahan tapi pasti, mulai menjadi nyata. (bmz)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *