Internasional

Piagam PBB Genap 80 Tahun, Serukan Komitmen Baru untuk Perdamaian dan Kerja Sama Global

×

Piagam PBB Genap 80 Tahun, Serukan Komitmen Baru untuk Perdamaian dan Kerja Sama Global

Share this article
Kata pembuka dalam Piagam PBB yang tertera di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. (UN Photo/Mark Garten)
Kata pembuka dalam Piagam PBB yang tertera di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. (UN Photo/Mark Garten)

NEW YORK, beritapalu | Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingati 80 tahun penandatanganan Piagam PBB dengan serangkaian kegiatan reflektif dan simbolik yang digelar di Markas Besar PBB, Manhattan, Amerika Serikat.

Dimulai sejak pagi hari, para diplomat dan delegasi dari berbagai negara, termasuk tim UN News, mengikuti kegiatan lari pagi dari Times Square menuju East River dengan rute yang membentuk pola bertuliskan “UN80” sebagai simbol usia Piagam yang telah mencapai delapan dekade.

Kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan resmi di Ruang Sidang Umum PBB, di mana para delegasi berkumpul di hadapan dokumen asli Piagam PBB yang saat ini sedang dipamerkan untuk umum. Piagam tersebut pertama kali ditandatangani pada 26 Juni 1945 oleh perwakilan dari 50 negara di San Francisco, sebagai respons terhadap Perang Dunia II dan harapan dunia akan perdamaian dan kerja sama internasional.

Presiden Majelis Umum PBB, Philémon Yang, dalam sambutannya menyebut peringatan ini sebagai momen reflektif di tengah konflik global yang masih berlangsung, seperti di Gaza, Ukraina, dan Sudan. Ia mengajak negara-negara anggota untuk lebih mengutamakan diplomasi dan dialog ketimbang kekerasan.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres turut menegaskan pentingnya mempertahankan prinsip-prinsip Piagam sebagai landasan hubungan internasional. “Piagam PBB bukan pilihan yang bisa dipilih sesuka hati. Ia adalah dasar dari hubungan antarnegara,” ujarnya.

Presiden Dewan Keamanan PBB bulan Juni, Carolyn Rodrigues-Birkett, menambahkan bahwa peringatan ini seharusnya menjadi dorongan untuk mengambil tindakan nyata dalam menghadapi tantangan global baru, termasuk krisis iklim dan ketimpangan sosial.

Acara juga diisi oleh pernyataan dari Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) Bob Rae dan Presiden Mahkamah Internasional (ICJ) Hakim Yuji Iwasawa, yang menyoroti relevansi Piagam dalam pembangunan sosial dan supremasi hukum di era modern.

Peringatan tersebut turut menyuarakan semangat hak asasi manusia dan kesetaraan gender, serta menampilkan pembacaan puisi oleh penyair muda Jordan Sanchez berjudul “Biarkan Cahaya Jatuh”, yang menyuarakan harapan akan dunia yang adil dan damai.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, dokumen asli Piagam PBB yang disimpan oleh Arsip Nasional Amerika Serikat dipamerkan di Markas Besar PBB dan akan dapat dilihat langsung oleh publik hingga September 2025.

Piagam PBB, yang diawali dengan kata-kata “Kami Bangsa-Bangsa yang Bersatu”, hari ini tak hanya dikenang sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai komitmen abadi bagi perdamaian, keadilan, dan kerja sama umat manusia. (afd/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Demo Day sebagai puncak dari program Blue Innovative Startup Acceleration (BISA) di Soehanna Hall, Jakarta, pada Selasa (1/7). (Foto: UNDP INdonesia)
Bisnis

JAKARTA, beritapalu | Dalam semangat memperkuat ekonomi biru berkelanjutan, Kedutaan Besar Inggris di Jakarta bekerja sama dengan AIS Forum–UNDP Indonesia menggelar acara Demo Day Program Blue Innovative Startup Acceleration (BISA) di Soehanna Hall, Jakarta, Selasa (1/7/2025). Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam mendorong inklusivitas, inovasi teknologi, dan penguatan komunitas di wilayah pesisir Indonesia.

Syrian refugees Batool, 9, and her brother Abdulaziz, 7, in the Zaatari refugee camp, Jordan. Pengungsi Syria, Batool (9) dan adiknya Abdulaziz (7) di Kamp pengungsi Zaatari, Yordania. ©️ UNHCR/Shawkat Alharfoush
Internasional

JAKARTA, beritapalu | Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengungkapkan bahwa jumlah orang yang terpaksa mengungsi akibat perang, kekerasan, dan penganiayaan di seluruh dunia telah mencapai angka tertinggi dalam satu dekade, yakni 122,1 juta orang per April 2025, meningkat dari 120 juta pada periode yang sama tahun lalu.